Beberapa hari ini, saya dan anak-anak suka sekali menonton acara di salah satu stasiun tv swasta. Itu loh…acara audisi idola cilik. Lucu dan sangat menghibur. Mengingat, anak-anak ini tampil (seharusnya) apa adanya dan penuh bakat.

Dari sekian peserta (jumlah sebenarnya sih ribuan, tapi yang ditampilkan hanya beberapa), banyak hal yang mengganggu saya selaku penonton. Penonton yang notabene adalah seorang ibu sekaligus pengamat perkembangan anak-anak. Dalam hal ini, saya seringkali setuju dengan pendapat mama Ira.

Misalnya, ya…kenapa anak-anak yang tampil pada audisi ini, yang pastinya masih anak-anak banget…harus didandan ala orang dewasa? Make-up yang digunakan…astaga…Ayu ting-ting aja nggak seheboh itu, kok! Yang namanya anak-anak, boleh-boleh saja di-make up dengan alasan supaya terlihat berbeda, tapi, kan bisa saja di make-up secukupnya, sehingga terlihat berbeda tanpa menyerupai topeng. Untuk orang dewasa saja, menurut saya fungsi make-up itu hanya sekedar koreksi secukupnya dan membuat sedikit berbeda bukannya menjadi topeng.

Belum lagi, beberapa diantara para topeng cilik ini, amat sangat sadar dengan dandanan mereka, terbukti, mereka sangat pede dengan gaya bak orang panggung (dewasa). Ck,ck,ck… ketika mama Ira dengan sedikit kesal bertanya “siapa sih yang ngajar kalian bergaya seperti itu??”  saya juga sedang menggerutu “kok dikasi ya sama ortu-nya bergaya kayak gitu”

Seharusnya biarkan mereka bergaya dan berdandan sewajarnya anak-anak. Ada banyak cara untuk membuat anak-anak terlihat berbeda, tapi masih terkesan sewajarnya. Buktinya, dari sekian yang lolos audisi tersebut, 90% berdandan sangat normal. Modal dan kualitas suara tetaplah no.1 kan?

Ohya satu hal lagi, ketika beberapa anak dinyatakan tidak lulus, kebanyakan dari mereka mengatakan takut mengecewakan ortu/guru/teman/lainnya. Menurut saya wajar banget ya… dalam arti, kadang kita berprestasi karena ingin membanggakan/membahagiakan seseorang, kan?

Tapi saya terkesima atas komentar mama Ira. Kenapa kamu takut mereka kecewa? Kenapa menurut kamu orang tua-mu tidak bangga ketika kamu sudah pede dan berani ikut audisi ini? Intinya… kapan kita berjuang karena kita yakin bahwa kita benar-benar bisa?

Hm….ya juga ya? Kebanyakan dari kita, lebih sering menyalahkan atau menimpakan kegagalan kita kepada atau atas nama orang lain. Kita yang kecewa/malu, kenapa mesti orang lain yang dituduh? Dan, satu hal, sebagai orang tua, asalkan si anak sudah mau mencoba, saya tidak pernah menyalahkan anak-anak saya kalau mereka gagal dalam lomba, sepanjang mereka telah berusaha semaksimal yang mereka bisa J

Saya suka ketika seorang ibu yang 3 anak kembarnya bernyanyi dan berusaha maksimal menyanyi dan menggunakan teknik pecah suara yang lumayan bagus, tetapi belum berhasil lolos audisi… saya sangat suka melihat reaksi mama mereka,beliau memeluk ketiga gadis cilik ini, menciumnya, dan berkata “yang penting sudah berusaha ya sayang…”

Sayasuka sekali…dengan pemandangan seperti itu, suatu saat, saya yakin ketiga gadis kecil itu akan tumbuh dengan rasa percaya diri yang sangat baik…

Berbeda ketika seorang anak lainnya dinyatakan gagal, dia menangis sejadi-jadinya, dan memohon agar diloloskan…Lalu yang mengerikan adalah reaksi sang ibu, dia menangis di pangkuan mama Ira dan memohon agar anaknya lolos. Dengan menyatakan bahwa anaknya sangat berbakat dan pantas lolos. Parahnya, dia melakukan itu di depan anaknya. Well, bakat penjilat. Itu yang ada di benak saya. Ketika kita tahu bahwa anak kita berbakat namun belum berhasil, berarti ada yang masih harus diasah dari dirinya. Maka, seharusnya kita mengatur strategi untuk memperbaiki itu, bukan mengajarkan dia untuk menghalalkan segala cara agar bisa mencapai tujuan.

Betul atau salah ya? Apapun itu…yang jelas, biarkan mereka tumbuh dan bahagia, tanpa melewatkan kesempatan berprestasi, sambil melatih mental sportivitas. 😉Gambar

Bulan Oktober menjadi bulan yang sangat penting bagi saya. Menjelang hari ultah saya, kejutan datang dari Majalah Bobo. Yaitu ketika pihak BOBO menelfon saya dan memberitahukan bahwa Davina menjadi salah satu dari 36 Delegasi Konferensi Anak Indonesia.

Saya terkejut. Sungguh…bahkan menjelang keberangkatan, ketika konfirmasi tiket sudah di tangan saya, ini masih juga menjadi tanda tanya besar. “Benarkah Vina?”

Hingga Vina sempat ngadat, dan saya menyadari, betapa kejamnya, ketika kita sebagai orang terdekat, menyangsikan kemampuannya. Betapa saya berlaku tidak adil dan meremehkan kemampuannya. Apalagi yang lebih menyakitkan daripada hal itu? Sejak itu, saya berhenti menyangsikan dia. Saya memilih untuk tetap menjadi pendukung bagi anak-anak saya… Well, siapa lagi yang bisa menjadi cheer leader mereka?

Keberhasilan Vina, bukan tanpa ujian yang menyakitkan hati saya sebagai seorang ibu, yang notabene sangat suka menulis. Pertanyaan seperti “mamanya ya yang buat?” atau “masak sih Vina nulis itu?” atau “tulisannya bukan bahasa Vina”

Sungguh, hingga detik ini, banyak pertanyaan seperti itu, dilayangkan langsung kepada saya…Emosi? pasti… Tetapi, dukungan suami, papa-mama, dadong Vina,serta para sahabat yang mengenal Vina dengan baik, akan langsung mengatakan…”yup! itu karya Vina”

Koming Rahayu, keponakan sekaligus rekan kerja di SMK 1 Susut, sangat percaya itu. That’s because she knows Vina, inside-outside. Dia tahu betapa kritis-nya Vina, betapa dia akan mencari tahu bahasa yang baik dari rangkaian kata yang dia buat, betapa pengetahuan umum Vina masuk kategori lumayan, betapa Vina memiliki tingkat kepercayaan diri diatas rata-rata, betapa semangatnya…adalah adaptasi total dari mama-nya 😉

Guru sekolahnya, sangat mengakui bahwa Vina memiliki kemampuan baik di bidang karya tulis. Bahkan Kepala Sekolah SD Negeri 1 Bangbang, baik yang sekarang ini,. maupun yang dulu, selalu menjadikan Vina sebagai siswi favorit, dan mengakui betapa dia memiliki potensi.

Tidak, tulisan ini bukan untuk menyombongkan puteri saya. Dia adalah Davina, yang memang memiliki banyak kekurangan. Dia adalah anak2 biasa…anak2 pada umumnya… Saya hanya tidak ingin, orang terdekat, menyangsikan kemampuan dia.

Kalau dipertanyakan, tentang tulisan2 Vina yang terorganisir…well that’s what parents are for…

dia membuat tulisan2 yang berpotensi, maka, kami membantu dengan memberi pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan tema yang dia buat, tentang informasi yang dia kumpulkan dan dia tuliskan. Dari pertanyaan saya, dia membuat jwaban, yang kemudian dia rangkai dengan informasinya sendiri dan imajinasi dunia kecilnya.

Sejujurnya,anak2 jauh lebih hebat dari kita…ya kan?

Saya ingat kata2 papa Vina… “Sudahlah…kalau kita ribut, mereka malah akan semakin puas, biarkan saja orang-orang memiliki persepsi sendiri, kita beri penjelasan dengan prestasi”

Well, mulai sekarang, saya memilih untuk menutup mulut, mengikhlaskan, dan membimbing Vina untuk mengasah bakatnya…Juga mengasah bakat2 Mesa, dan keponakan2 yang saya sayangi…

Yah, dengan prestasi, mari kita bungkam mereka…….

 

 

 

 

 

Jika saat ini saya bertemu dengan teman lama, maka komentar mereka kebanyakan adalah “oming sekarang ngajar???”

yeah, mengingat, jaman sekolah dulu, sungguh tidak ada aroma pengajar dalam diri saya. Banci tampil sih, jelas…tapi bukan ke arah pengajaran.

Mungkin yang pertama bisa melihat gelagat atau kecenderungan saya untuk mendidik, adalah ayah saya. Menjelang kelulusan, ayah terus merayu saya untuk mau masuk ke FKIP yang cukup terkenal di Bali, yang terletak di Singaraja (saat ini sudah berubah namanya menjadi Undiksha). Respon saya? Meminjam istilah sekarang “please deh pap!!! Guru getoooo”

Maka jadilah saya masuk ke FE. Bukan menyesali loh ya..

Namanya hidup, kalau tidak melalui jalan itu, mungkin tidak akan saya berada pada posisi saat ini.

Awalnya saya tidak berniat untuk bekerja. Saya ikut pendidikan untuk guru TK, karena saya ingin belajar mendidik anak usia dini. Saat itu saya sudah meraih gelar SE. Tujuannya? saya ingin bisa mendidik putri kecil saya, Davina, itu saja.

Entah bagaimana, sebuah sekolah Nasional Plus berminat dan menaawarkan pekerjaan kepada saya. Itulah awal saya masuk ke dunia pendidikan. Dan ternyata, saya sangat suka!!!

Saya jadi begitu mencintai dunia pendidikan. Setelah 1,5th mengabdi sebagai guru TK, seorang teman menawarkan saya untuk mengajar di sebuah sekolah Internasional, Sunrise School. Sebelumnya, saya sempat mengajar di sekolah Nasional Plus lainnya, tapi, sungguh saya kecewa dengan manajemen sekolah ini, jadi saya tidak begitu berminat membicarakannya. Oke, kembali ke Sunrise School. Di sini saya mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Indonesian Culture untuk siswa Primary dan Junior High School.

Dasar pengajaran yang saya peroleh saat di CHIS, ditambah dengan kepala sekolah Sunrise School yang sangat bersahabat dan tidak pelit ilmu, benar-benar menguntungkan saya sebagai pribadi, dan menambah bekal ilmu saya sebagai Guru. Dari kepala Sekolah ini juga, saya mendapat pelatihan Bahasa Inggris gratis. Beliau membantu saya membuat Silabus, materi pengajaran dalam bahasa inggris, berkomunikasi dengan siswa, dll.

Hampir 5th saya bertahan di Sunrise. Tetapi, memasuki th.ke-5, ketika ada pergantian kepala sekolah, mereka memutuskan untuk tidak mengambil tenaga honorer lagi. Tidak apalah, toh saya tidak akan sanggup bekerja sebagai guru tetap. Mengingat jarak yang harus saya tempuh dari Bangli ke Kerobokan. Hubungan saya dengan Sunrise tetap manis.

Setahun berikutnya saya menjadi guru CPNS di sebuah SMK di Susut,Bangli.

Entahlah, tapi saya begitu suka pada dunia pendidikan. Mungkin, itu juga yang membuat profesi ini bisa ‘tercium’ atau terlihat auranya… 😀

Bukan mengada-ada, tapi,seorang anak kecil di tempat kost saudara saya, dengan manisnya bertanya “tante, bu guru ya?” waktu kutanya kenapa, dia menjawab “tante ngomongnya kayak bu guru”

Atau ketika ke pasar, seorang pedagang bertanya, “Ibu, ngajar dimana?” saya takjub. Mengingat, penampilan saya saat itu lebih ke arah PRT daripada Guru. 🙂

Bukan sekali dua kali ada yang men-judge saya sebagai Guru. Sampai seorang sepupu bilang, mungkin saja jidatmu udah distempel kata BU GURU.

Tapi saya suka. Bukan karena sombong. Tapi karena saya suka.

Setangkai bunga, dari semacam tanaman rumput tiba-tiba aja mekar.

Seperti bunga terompet, warnanya merah.

Cantik, walaupun tidak wangi.

Anak-anak suka sekali memandangi dan menyentuh bunga itu (sayang belum sempat difoto)

Waktu Mesha nanya apa nama bunga itu, papanya bilang, itu bunga cantik.

Lalu kata Mesha… kalau gitu namanya bunga mama…

so sweet… 🙂

*mama besar kepala*